BAHAGI 2 =INAKALA NG LOLA NA NAKALIMUTAN NA NG KANYANG ASAWA ANG KANILANG 50TH…

INAKALA NG LOLA NA NAKALIMUTAN NA NG KANYANG ASAWA ANG KANILANG 50TH ANNIVERSARY DAHIL NAWALA ITO BUONG ARAW AT HINDI SUMASAGOT SA TAWAG PERO NAIYAK SIYA NANG UMUWI ANG MATANDA NA PUNO NG PUTIK…

Alas-singko pa lang ng umaga ay gising na si Lola Soling.
Nakadilat siya at nakatingin sa kisame, hinihintay na batiin siya ng kanyang asawa. Ito ang araw ng kanilang 50th Wedding Anniversary. Golden Anniversary. Kalahating siglo ng pagsasama. Inasahan ni Soling na pagmulat niya, may bulaklak sa tabi ng unan niya, o kaya ay may nakahandang almusal.
Pero nang lumingon siya sa kabilang parte ng kama, malamig na ang unan. Wala na si Lolo Tonying.
“Baka nasa palengke, bumibili ng handa,” bulong ni Soling sa sarili para pakalmahin ang loob.
Bumangon siya at nagluto ng paboritong kare-kare ni Tonying. Isinuot niya ang kanyang bestida na kulay ginto na ipinatahi pa niya noong nakaraang buwan. Naglagay siya ng kaunting lipstick at pulbos.
Lumipas ang alas-otso. Wala pa rin si Tonying.

Dumating ang tanghalian. Lumamig na ang sabaw ng kare-kare. Wala pa rin.
Tinatawagan niya ang cellphone ni Tonying, pero “Cannot be reached” ang sagot ng operator.
Nagsimulang kabahan si Soling. Baka inatake na ito ng high blood? Baka na-kidnap? O ang pinakamasakit sa lahat… baka nakalimutan niya?
“Imposible,” iyak ni Soling habang nakaupo sa tumba-tumba sa beranda. “Limampung taon… paano niya makakalimutan?”
Dumating ang dapit-hapon. Ang pag-aalala ni Soling ay napalitan ng tampo, at ang tampo ay naging galit. Ang mga kapitbahay ay nagtatanong na kung nasaan ang handaan, pero nahihiyang nagdahilan na lang si Soling na masama ang pakiramdam niya.
Alas-sais ng gabi. Madilim na.
Biglang huminto ang isang tricycle sa tapat ng gate. Bumaba si Lolo Tonying.
Napatayo si Soling, handa nang sigawan ang asawa. Pero natigilan siya nang makita ang itsura nito…

…Tubuh Lolo Tonying penuh lumpur.

Bukan cuma sandal atau ujung celananya.

Hampir seluruh bagian bawah kemejanya kecokelatan. Celananya basah sampai ke lutut. Rambut putihnya berantakan, dahinya berkeringat, salah satu lengannya lecet, dan di tangan kanannya ia membawa sesuatu yang dibungkus karung bekas pupuk.

Lola Soling yang tadinya sudah siap memarahi suaminya, mendadak kehilangan kata-kata.

“Tonying?”

Lelaki tua itu berhenti di depan pagar.

Ia tersenyum kecil.

Senyum orang yang tahu sebentar lagi akan dimarahi.

“Jangan marah dulu.”

Kalimat itu justru membuat Soling semakin kesal.

“JANGAN MARAH?”

Ia berjalan cepat keluar beranda sampai hampir tersandung ujung gaunnya.

“Dari jam lima pagi kamu hilang! Telepon mati! Tidak bilang pergi ke mana! Aku pikir kamu pingsan di jalan, diculik orang, masuk rumah sakit—”

“Siapa juga yang mau menculik kakek seperti aku?”

“Jangan bercanda!”

Tonying langsung diam.

Soling berdiri di depannya.

Baru ketika jaraknya sangat dekat, ia melihat tangan suaminya gemetar.

Bukan karena takut dimarahi.

Mungkin kelelahan.

Mungkin kedinginan.

“Kenapa tanganmu?”

“Tidak apa-apa.”

“Lecet itu apa?”

“Kena ranting.”

“Dan lumpur ini?”

Tonying menunduk melihat dirinya sendiri seolah baru sadar pakaiannya seperti habis bergulat dengan kerbau.

“Panjang ceritanya.”

“Bagus. Kita punya waktu. Lima puluh tahun sudah kuhabiskan mendengarkan ceritamu.”

Biasanya Tonying akan tertawa.

Kali ini tidak.

Ia hanya mengangguk ke arah benda yang dibungkus karung.

“Tolong ambilkan kursi.”

Soling semakin bingung.

“Kenapa?”

“Kakiku agak kram.”

Kalimat itu langsung mengubah marah menjadi panik.

“Ya Tuhan, bilang dari tadi!”

Ia memegang lengan suaminya.

“Kamu jatuh?”

“Sedikit.”

“Sedikit bagaimana?”

“Kalau jatuhnya pelan, kan sedikit.”

“Tonying!”

“Baik. Aku jatuh.”

Soling hampir menangis lagi.

Ia menyeret kursi plastik dari beranda dan menyuruh suaminya duduk.

Tetangga yang sejak tadi mengintip dari balik pagar mulai mendekat.

Aling Minda membawa senter.

Mang Ruben berdiri sambil memegang handuk di bahunya.

Bahkan dua anak kecil dari rumah sebelah sudah ikut menonton dengan wajah serius seolah ada penyelidikan polisi.

“Kuya Tonying, dari mana?” tanya Minda.

Tonying hanya menjawab, “Dari bukit.”

Soling memejamkan mata.

“Bukit?”

“Iya.”

“BUKIT YANG MANA?”

Tonying menunjuk samar ke arah belakang desa.

Soling tahu tempat itu.

Bukit San Roque.

Dulu, sebelum banyak rumah dibangun, daerah itu dipenuhi rumput liar, pohon mangga tua, dan lahan yang tidak terurus.

Sekarang sebagian sudah dijadikan kebun.

Sebagian lagi dibiarkan begitu saja.

Jaraknya tidak dekat.

Untuk orang seusia Tonying yang sudah tujuh puluh tiga tahun, pergi ke sana sendirian saja sudah cukup membuat darah Soling naik.

“Apa yang kamu lakukan di bukit?”

Tonying menatap karung di tangannya.

Lalu ia menghela napas.

“Bisa kita masuk dulu?”

Soling sebenarnya ingin menuntut jawaban di tempat itu juga.

Tapi ia melihat lutut suaminya yang penuh lumpur.

“Masuk.”

Ia menoleh pada tetangga.

“Maaf, nanti saja.”

Minda mengangguk, walau jelas sekali ia ingin tahu.

Siapa pun pasti ingin tahu.

Tonying hilang seharian di hari ulang tahun pernikahan ke-50, lalu pulang seperti habis menggali kuburan.

Mencurigakan.

Begitu masuk rumah, Soling langsung menyuruh suaminya mandi.

Tonying menolak.

“Nanti.”

“Tidak ada nanti. Kamu bau lumpur.”

“Sebentar.”

Ia menaruh karung itu perlahan di atas meja makan.

Mata Soling mengikuti gerakannya.

“Apa itu?”

Tonying tidak menjawab.

“Kalau isinya ular, demi Tuhan—”

“Bukan ular.”

“Kalau ayam?”

“Bukan.”

“Kalau barang curian?”

Tonying menatap istrinya.

“Lima puluh tahun menikah, kamu masih mengira aku pencuri?”

“Lima puluh tahun menikah, hari ini baru pertama kali kamu pulang seperti maling kebun.”

Itu membuat Tonying terkekeh.

Akhirnya.

Sedikit saja.

Soling merasa lega mendengarnya.

Namun rasa lega itu cuma sebentar.

Sebab ketika Tonying membuka ikatan karung, Soling melihat sesuatu yang membuat dadanya seperti ditarik ke masa puluhan tahun sebelumnya.

Di dalamnya ada sebuah kotak kayu kecil.

Tua.

Sudutnya lapuk.

Ada tanah menempel di seluruh permukaannya.

Soling berdiri diam.

Ia mengenali kotak itu.

Atau setidaknya…

ia merasa pernah melihatnya.

Tonying membersihkan tutupnya dengan ujung kemeja.

“Masih ingat?”

Soling tidak menjawab.

Tonying membuka kotak.

Di dalamnya ada kain yang sudah berubah warna.

Sebuah sisir kayu patah.

Dua surat yang kertasnya menguning.

Satu foto hitam putih.

Dan sepotong pita merah yang hampir hancur.

Begitu Soling melihat foto itu, tangannya spontan menutup mulut.

Ia langsung tahu.

“Tidak mungkin…”

Tonying tersenyum.

“Masih ingat ternyata.”

Soling mengambil foto itu dengan sangat hati-hati.

Foto seorang gadis muda mengenakan gaun sederhana.

Rambut panjang.

Wajah kurus.

Mata besar.

Di sampingnya berdiri seorang pemuda yang terlalu kurus untuk jas yang dipakainya.

Tonying.

Soling.

Hari pernikahan mereka.

Lima puluh tahun lalu.

Bukan foto utama dari gereja.

Bukan foto keluarga.

Ini foto yang diambil setelah acara selesai, ketika mereka diam-diam berjalan ke Bukit San Roque karena belum ingin pulang.

Soling menatap suaminya.

“Kotak ini…”

Tonying mengangguk.

“Kotak kita.”

Dan tiba-tiba ia mengerti.

Dulu, tepat setelah menikah, mereka pernah melakukan sesuatu yang sangat bodoh.

Sangat muda.

Sangat romantis.

Dan sangat tidak praktis.

Mereka mengubur sebuah kotak di bawah pohon mangga tua di Bukit San Roque.

Isinya benda-benda kecil dari hari pernikahan.

Foto.

Surat.

Pita.

Sisir kayu milik Soling yang patah pagi itu.

Dan sebuah kertas berisi janji.

Tonying waktu itu berkata,

“Pada ulang tahun pernikahan ke-50, kita gali lagi.”

Soling menertawakannya.

“Kalau kita masih hidup.”

“Kita harus hidup.”

“Kalau pohonnya sudah tidak ada?”

“Kita cari.”

“Kalau lupa tempatnya?”

“Kamu kan istri saya, kerja kamu mengingat.”

“Enak saja.”

Mereka tertawa lalu melupakan itu.

Tahun berganti.

Anak lahir.

Utang.

Pekerjaan.

Sakit.

Kematian orang tua.

Sekolah anak.

Pernikahan anak.

Cucu.

Badai.

Rumah bocor.

Harga beras naik.

Hidup mengubur banyak hal jauh lebih dalam daripada tanah.

Termasuk janji-janji kecil yang dibuat ketika masih muda.

Soling duduk perlahan.

“Jadi kamu… dari pagi…”

“Cari ini.”

“Sendirian?”

Tonying mengangguk.

Soling menampar bahunya.

Tidak keras.

Tapi cukup membuat lelaki itu meringis.

“Aduh!”

“Pantas!”

“Kenapa?”

“Bodoh!”

Tonying tertawa.

“Kan ketemu.”

“Kamu bisa mati di sana!”

“Nggak sampai begitu.”

“Tidak sampai begitu apa? Lihat tubuhmu!”

Ia menunjuk luka di lengan.

“Ini?”

“Kena semak.”

“Lutut?”

“Terpeleset.”

“Telepon?”

Tonying terdiam.

“Kenapa telepon mati?”

Ia merogoh saku.

Mengeluarkan ponsel tua yang layarnya retak.

“Jatuh ke lumpur.”

Soling menutup muka.

“Ya Tuhan.”

“Masih bisa hidup nanti.”

“Kamu benar-benar…”

Ia ingin marah.

Serius.

Tapi ketika melihat kotak tua di meja, matanya kembali panas.

“Kenapa tidak bilang padaku?”

Tonying bersandar di kursi.

“Kalau kubilang, bukan kejutan.”

“Aku hampir mati cemas.”

“Itu bagian yang tidak direncanakan.”

“Jelas.”

Soling menyeka matanya.

“Kenapa harus hari ini?”

Tonying menatapnya.

“Karena janji kita hari ini.”

“Janji lima puluh tahun lalu.”

“Janji tetap janji.”

Soling menunduk.

Entah kenapa kalimat sesederhana itu terasa berat.

Ia melihat kembali foto lama.

Wajah mereka berdua tidak memiliki keriput.

Tidak ada rambut putih.

Tidak ada obat tekanan darah di meja.

Tidak ada nyeri lutut.

Tidak ada kecemasan soal tagihan listrik.

Mereka terlihat seperti dua orang yang yakin hidup bisa ditaklukkan kalau dijalani bersama.

Naif.

Tapi manis.

“Aku lupa,” kata Soling pelan.

“Aku juga hampir lupa.”

“Hampir?”

“Tiga minggu lalu aku lihat kalender.”

Tonying menunjuk kalender dinding.

“Aku ingat angka lima puluh. Entah kenapa langsung teringat bukit.”

“Dan kamu memutuskan pergi sendiri?”

“Iya.”

“Tanpa tongkat?”

“Aku bawa.”

“Mana?”

“Hilang.”

“Tonying!”

“Makanya pulang pakai tricycle.”

Soling benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Akhirnya keduanya keluar sekaligus.

Tonying melihatnya.

“Jangan menangis.”

“Diam.”

“Aku pulang, kan?”

“Itu bukan alasan.”

“Kalau aku tidak pulang, baru kamu boleh marah.”

“Jangan bicara begitu!”

Soling memukul bahunya lagi.

Kali ini Tonying hanya tersenyum.

Lalu ia mengambil salah satu surat dari kotak.

“Ini untukmu.”

Soling mengerutkan kening.

“Dari siapa?”

Tonying menahan senyum.

“Dari laki-laki paling tampan di desa tahun 1976.”

“Berarti bukan kamu.”

“Buka dulu.”

Tangannya gemetar sedikit ketika menerima surat itu.

Kertasnya rapuh.

Tulisan tinta biru sudah memudar.

Ia mengenal tulisan tangan itu.

Tulisan Tonying muda.

Huruf-hurufnya miring dan terlalu besar.

Ia membuka perlahan.

“Baca keras,” kata Tonying.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Malu.”

“Yang nulis aku.”

“Justru itu.”

“Soling.”

“Baik.”

Ia menarik napas.

Lalu mulai membaca.

“Untuk Soling yang akan membaca ini kalau kita berhasil bertahan lima puluh tahun…”

Ia berhenti.

Tonying tersenyum.

“Lanjut.”

“…kalau kita tidak berhasil, semoga yang menemukan surat ini tidak menertawakan tulisan tanganku.”

Soling langsung tertawa kecil.

“Dari dulu memang jelek.”

“Lanjut.”

“Kalau lima puluh tahun sudah lewat dan kamu masih menjadi istriku, terima kasih karena tidak kabur.”

Soling menggeleng.

“Bodoh.”

Tonying tersenyum lebih lebar.

“Lanjut.”

Ia membaca.

“Aku tidak tahu bagaimana hidup kita nanti. Mungkin kita punya rumah besar. Mungkin tidak. Mungkin kita punya banyak anak. Mungkin sedikit. Mungkin kita kaya. Mungkin aku masih tetap meminjam uang pada kakakku.”

Soling berhenti lagi.

“Kamu benar soal yang terakhir.”

“Kakakku pelit.”

“Bukan. Kamu yang suka utang.”

“Lanjut.”

Soling menghela napas.

“Aku cuma ingin satu hal. Kalau suatu hari kita sudah tua dan marah satu sama lain, tolong ingat bahwa pada hari ini aku memilihmu dengan sadar. Tidak ada yang memaksaku. Aku memilih perempuan yang cerewet, keras kepala, dan kalau marah suaranya terdengar sampai ujung jalan.”

“Kurang ajar.”

Tonying terkekeh.

“Ini suratmu sendiri.”

“Suratmu.”

“Ya.”

Soling melanjutkan.

“Kalau nanti aku tua dan menyebalkan, jangan terlalu lama marah. Tapi kalau aku memang salah, marahi saja. Aku tahu kamu akan tetap melakukannya.”

Air matanya turun lagi.

Ia membaca lebih pelan.

“Kalau kita bisa sampai lima puluh tahun, berarti kita sudah melewati banyak hal yang sekarang belum bisa kita bayangkan. Jadi pada hari itu, mari kita duduk sebentar. Jangan membicarakan uang. Jangan membicarakan anak. Jangan membicarakan sakit. Kita ingat saja hari ketika kita masih bodoh, miskin, dan bahagia.”

Soling berhenti.

Tidak sanggup meneruskan.

Tonying tidak memaksa.

Mereka diam.

Dari dapur terdengar bunyi tetesan air dari keran yang tidak tertutup sempurna.

Jam dinding berdetak.

Di luar, ada anak-anak bermain.

Soling merasa seperti rumah mereka berubah.

Padahal tidak.

Meja sama.

Kursi sama.

Lampu sama.

Hanya sebuah kotak tua yang membuat semuanya tampak berbeda.

“Masih ada,” kata Tonying.

“Apa?”

“Bagian bawah.”

Soling melihat surat.

Masih ada beberapa baris.

Ia menarik napas lagi.

“Dan kalau suatu saat aku pergi duluan…”

Suaranya langsung patah.

“Tonying…”

“Baca saja.”

“Aku tidak mau.”

“Soling.”

Ia menggeleng.

Tonying mengambil surat itu.

Kali ini ia yang membaca.

“Kalau suatu saat aku pergi duluan, jangan bilang hidupmu selesai. Marahi aku sedikit karena pergi lebih dulu. Setelah itu, makan yang banyak. Tidur. Pakai baju bagus. Cerita tentang aku kalau kamu mau. Tapi jangan ikut mati sebelum waktumu.”

Soling menangis tanpa suara.

Tonying juga mulai berkaca-kaca.

Ia buru-buru bercanda.

“Untung tulisan muda saya bagus.”

“Jelek.”

“Romantis.”

“Berlebihan.”

“Menangis juga.”

“Aku menangis karena kamu bodoh.”

“Oke.”

Mereka diam lagi.

Kemudian Soling memperhatikan ada satu amplop lain.

“Apa ini?”

Tonying memandangnya.

“Suratmu.”

Soling membeku.

“Aku menulis juga?”

“Kamu tidak ingat?”

“Tidak.”

Tonying menyerahkan.

Tulisan di depan amplop:

UNTUK TONYING TUA.

Soling tertawa kecil.

“Aku memang kurang ajar.”

“Dari dulu.”

“Buka.”

“Tidak. Kamu baca.”

“Kenapa?”

“Aku malu.”

“Nah, sekarang gantian.”

Tonying membuka amplop.

“Untuk Tonying tua…”

Ia berhenti lalu menatap istrinya.

“Aku sudah tua.”

“Baca.”

“Baik.”

Ia membaca.

“Kalau kamu membaca ini, berarti kamu masih hidup, dan mungkin rambutmu sudah habis.”

Tonying spontan meraba kepala.

“Fitnah.”

Soling tertawa keras.

Untuk pertama kali hari itu, tawanya benar-benar lepas.

Tonying melanjutkan.

“Kalau kamu masih keras kepala, aku yakin aku masih sering marah padamu.”

“Benar.”

“Kalau kamu masih suka meninggalkan handuk di kursi, semoga aku belum membunuhmu.”

“Tidak lagi.”

“Karena aku yang cuci sekarang.”

“Diam dan baca.”

Tonying tersenyum.

“Aku tidak tahu apakah kita akan menjadi pasangan yang baik. Tapi aku berharap kita tidak jadi pasangan yang terlalu sopan sampai tidak berani bertengkar.”

Soling menatapnya.

Tonying membaca lebih pelan.

“Aku ingin kita tetap bisa marah. Tetap bisa ngomel. Tetap bisa bilang kalau ada yang tidak benar. Tapi setelah itu, jangan tidur saling membelakangi terlalu lama.”

Keduanya tertawa kecil.

Mereka pernah melakukan itu.

Banyak kali.

Pernah dua hari.

Pernah satu minggu setelah Tonying membeli motor tanpa bicara terlebih dahulu.

Pernah tiga hari gara-gara Soling membuang kemeja favoritnya karena dianggap sudah seperti kain pel.

“Aku juga menulis, kalau nanti kita kaya…”

Tonying berhenti.

“Kenapa?”

“Lucu.”

“Baca.”

“…kalau nanti kita kaya, belikan aku gelang emas.”

Tonying menepuk meja.

“Nah!”

Soling tertawa.

“Mana gelangnya?”

“Sudah pernah kubelikan.”

“Tipis sekali.”

“Emas tetap emas.”

“Lanjut.”

Tonying membalik surat.

“Kalau nanti kita miskin, tidak apa-apa. Asal jangan miskin tawa.”

Kali ini yang diam Tonying.

Matanya memerah.

Soling menatapnya.

“Kenapa?”

“Tidak apa.”

“Menangis?”

“Kelilipan.”

“Di dalam rumah?”

“Debu.”

“Pembohong.”

“Mana darimu.”

Mereka tertawa lagi.

Setelah itu, Tonying merogoh kotak sekali lagi.

Ada sesuatu dibungkus saputangan lama.

“Apa lagi?”

“Ini bagian kejutan.”

Soling mengerutkan kening.

Tonying membuka.

Sebuah cincin.

Bukan cincin mahal.

Bukan emas tebal.

Bahkan warnanya sudah kusam.

Soling mengenalinya.

Cincin pernikahan pertama Tonying.

Yang hilang empat puluh tiga tahun lalu.

Saat mereka baru punya anak kedua.

Tonying waktu itu bekerja membantu menggarap lahan.

Sore hari ia pulang dan baru sadar cincin tidak ada.

Mereka mencarinya berhari-hari.

Tidak ditemukan.

Soling menangis.

Tonying berjanji akan membeli yang baru.

Akhirnya ia memang membeli satu, beberapa tahun kemudian.

Cincin pertama dianggap hilang selamanya.

Soling memandang suaminya.

“Jangan bilang…”

Tonying mengangguk.

“Ini yang bikin aku lama.”

“Di mana kamu temukan?”

“Dekat akar pohon mangga.”

“Bagaimana bisa?”

“Entahlah.”

Ia mengangkat bahu.

“Mungkin dulu jatuh waktu kita mengubur kotak.”

Soling menggeleng.

“Tidak mungkin. Kamu kehilangan cincin bertahun-tahun setelah kita menikah.”

Tonying mengerutkan dahi.

“Iya juga.”

Mereka saling menatap.

Kemudian Tonying tertawa.

“Berarti bukan.”

Soling langsung memukul lengannya.

“Aduh!”

“Dasar!”

“Sebentar, sebentar!”

Ia memeriksa cincin lebih dekat.

Di bagian dalam ada ukiran kecil.

S + T.

Soling berhenti.

Itu memang cincin mereka.

“Tapi bagaimana…”

Tonying mengusap dagu.

Lalu tiba-tiba wajahnya berubah.

“Oh.”

“Apa?”

“Aku ingat.”

“Apa?”

“Waktu anak kedua kita lahir, kita pernah ke bukit lagi.”

Soling berusaha mengingat.

“Aku bawa kamu karena kamu stres di rumah.”

Perlahan, ingatan itu muncul.

Mereka memang pernah datang lagi.

Saat itu Soling sedang sering menangis setelah melahirkan.

Ia merasa buruk.

Lelah.

Rumah berantakan.

Dua anak menangis bergantian.

Tonying mengajaknya berjalan.

Sampai ke pohon mangga.

Mereka duduk lama.

Tonying sempat menggali sedikit tanah karena ingin memastikan kotak mereka masih ada.

Mungkin di situlah cincin jatuh.

“Lima puluh tahun di tanah,” bisik Soling.

“Mirip pernikahan kita.”

Soling menatapnya.

“Apanya?”

“Banyak lumpur, tapi tidak hilang.”

Ia ingin memukulnya lagi.

Tapi malah menangis.

Tonying meraih tangannya.

Pelan.

Jari-jari mereka sama-sama sudah keriput.

Ia mencoba memasukkan cincin itu ke jari Soling.

Tidak muat.

“Jari siapa itu?”

“Cincinmu.”

“Kecil.”

“Dulu aku kurus.”

“Sekarang?”

“Masih ganteng.”

Soling tertawa sambil menghapus air mata.

“Kamu tidak berubah.”

“Makanya lima puluh tahun.”

Mereka akhirnya mandi dan mengganti pakaian.

Kare-kare sudah dingin.

Soling memanaskannya lagi.

Tonying lapar sekali dan makan dua piring nasi.

“Pelan-pelan,” omel Soling.

“Tadi belum makan.”

“Apa?”

“Cuma pisang satu.”

“Dari jam lima pagi?”

“Ada biskuit.”

“Kamu mau mati?”

“Tidak.”

“Berarti bodoh.”

“Sedikit.”

Mereka makan di meja yang tadinya disiapkan Soling untuk perayaan yang ia kira gagal.

Tidak ada bunga.

Tidak ada restoran.

Tidak ada foto keluarga.

Cuma mereka berdua.

Dan sebuah kotak tua penuh tanah.

Setelah makan, terdengar suara gaduh di luar.

Soling menoleh.

“Apa lagi?”

Tonying tiba-tiba terlihat tidak bersalah.

“Entah.”

“Tonying.”

“Apa?”

“Kamu tahu sesuatu.”

“Sedikit.”

Pintu terbuka.

Anak sulung mereka masuk.

Disusul anak kedua.

Lalu menantu.

Cucu.

Cicit kecil yang berlari sambil membawa balon emas.

“HAPPY ANNIVERSARY!”

Soling membeku.

Ia menatap Tonying.

“Kamu…”

Tonying mengangkat tangan.

“Yang ini bukan ideku.”

“Lolo yang telepon kemarin!” teriak salah satu cucu.

“Katanya datang jam tujuh!”

Soling langsung memandang suaminya.

“Jadi kamu merencanakan ini?”

“Sedikit.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Namanya kejutan.”

“Dua kali kamu hampir membunuhku hari ini.”

Semua tertawa.

Rumah yang tadi sunyi mendadak penuh.

Ada pancit.

Kue.

Ayam bakar.

Balon.

Foto.

Cucu-cucu memaksa mereka duduk di tengah.

Soling sempat merasa malu karena matanya bengkak habis menangis.

“Lola, lipstick masih bagus,” kata cucunya.

“Yang penting itu.”

Tonying yang sudah berganti kemeja bersih duduk di sebelahnya.

Salah satu anak mereka memperhatikan luka di lengannya.

“Pa, kenapa?”

Tonying menjawab santai,

“Jatuh.”

“DI BUKIT!” seru Soling.

Semua langsung menoleh.

“Bukit?”

“Sendirian?”

“Umur tujuh puluh tiga?”

“Pa!”

Tonying dikeroyok omelan satu keluarga.

Ia menutup telinga.

“Nah, sekarang kalian tahu kenapa aku nggak mau cerita.”

“Bodoh memang,” kata anak sulung.

“Mana sopan santun?”

“Fakta.”

Soling puas.

“Dengar itu.”

Kemudian ia mengambil kotak kayu.

Anak-anak berkumpul.

Mereka melihat foto lama.

Surat.

Pita.

Cincin.

Salah satu cucu bertanya,

“Lola, kalian romantis juga ya dulu.”

Soling menjawab cepat,

“Tidak.”

Tonying menjawab bersamaan,

“Sangat.”

Semua tertawa.

Anak kedua mereka membaca beberapa baris surat lalu menangis.

“Ma, Pa… kalian simpan ini lima puluh tahun?”

“Bukan simpan,” kata Soling. “Kubur.”

“Romantis.”

“Bodoh.”

Tonying mengangkat bahu.

“Kadang sama.”

Malam semakin larut.

Foto keluarga diambil.

Banyak.

Ada yang blur.

Ada yang matanya tertutup.

Ada cucu kecil yang menangis karena balonnya pecah.

Kue sedikit miring karena dibawa dengan motor.

Lilin angka lima dan nol hampir jatuh.

Tidak sempurna.

Justru itu yang membuat Soling senang.

Ia melihat rumahnya.

Orang-orang yang muncul dari lima puluh tahun hidup bersama.

Anak.

Cucu.

Cicit.

Menantu yang dulu sempat ia benci lalu sekarang malah sering menemaninya ke dokter.

Tonying yang sedang memarahi cucunya karena mengambil bagian kulit ayam paling renyah.

“Untuk Lolo!”

“Kolesterolmu!”

“Sedikit!”

“Tidak!”

Soling tersenyum.

Lima puluh tahun.

Ternyata bukan angka yang besar ketika dijalani hari demi hari.

Kadang satu hari terasa sangat panjang.

Ada tahun ketika mereka bertengkar soal uang terus-menerus.

Ada tahun ketika salah satu anak sakit.

Ada masa Tonying kehilangan kerja dan malu pulang ke rumah.

Ada masa Soling hampir meninggalkannya karena merasa Tonying terlalu banyak minum dengan teman-teman.

Pernah ia benar-benar mengemas pakaian.

Tonying duduk di depan pintu dan berkata,

“Kalau mau pergi, lewat jendela.”

Soling marah.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak akan bergeser.”

Konyol.

Tapi ia tidak jadi pergi.

Ada juga masa Soling sakit dan harus dioperasi.

Tonying tidur di bangku rumah sakit tiga malam.

Sakit punggungnya sampai dua minggu.

Tidak pernah ia ungkit.

Ada hari-hari mereka sangat romantis.

Lebih banyak hari yang biasa.

Masak.

Cuci.

Belanja.

Ngomel.

Tidur.

Bangun.

Itulah lima puluh tahun.

Bukan satu kejutan besar.

Bukan satu janji.

Ribuan hal kecil.

Sesudah semua tamu pulang, hampir jam sebelas malam.

Rumah kembali sepi.

Soling sedang merapikan piring ketika Tonying berdiri di belakang.

“Jangan cuci sekarang.”

“Besok bau.”

“Rendam.”

“Kamu yang cuci?”

“Oke.”

Soling menoleh curiga.

“Kenapa gampang setuju?”

“Hari anniversary.”

“Besok lupa lagi.”

“Besok bukan anniversary.”

Ia menggeleng.

“Tidak berubah.”

Mereka duduk di beranda.

Gaun emas Soling sudah sedikit kusut.

Tonying memakai celana rumah.

Tidak ada lagi tamu.

Tidak ada kamera.

Tidak ada anak.

Cuma suara jangkrik dan beberapa motor lewat jauh di jalan.

Tonying mengeluarkan sesuatu dari saku.

“Apalagi?”

“Ini terakhir.”

“Kamu punya berapa kejutan?”

“Yang ini murah.”

Ia memberikan selembar kertas baru.

Bukan surat lama.

Tulisan tangan Tonying sekarang jauh lebih jelek.

Garisnya goyah.

Soling membaca.

UNTUK SOLING, TAHUN KE-50.

Ia menatapnya.

“Kamu tulis kapan?”

“Tadi malam.”

“Baca sendiri.”

“Kenapa?”

“Aku mau dengar.”

Tonying mengambil.

Ia tidak terlihat malu kali ini.

“Soling…”

“Hmm.”

“Lima puluh tahun lalu aku menulis aku tidak tahu bagaimana hidup kita akan jadi.”

Ia berhenti.

“Ternyata lumayan berantakan.”

Soling tertawa.

“Ada utang. Ada sakit. Ada anak bandel.”

“Anak-anak mendengar, bisa marah.”

“Mereka tidak di sini.”

“Lanjut.”

“Ada waktu aku membuatmu kecewa. Ada waktu kamu membuatku ingin tidur di luar.”

“Sering.”

“Ada waktu kita tidak punya uang. Ada waktu kita punya sedikit lalu habis lagi.”

“Benar.”

“Ada hal-hal yang dulu ingin kubeli untukmu tapi tidak pernah bisa.”

Soling diam.

“Tapi kalau ditanya apakah aku mau mengulang hidup yang sama…”

Tonying berhenti.

Suaranya berubah.

Pelan.

“…kalau dengan kamu, mau.”

Soling menunduk.

“Jangan menangis lagi.”

“Diam.”

“Aku belum selesai.”

“Cepat.”

“Kalau besok aku diberi dua pilihan: hidup mudah tanpa kamu, atau hidup berantakan dengan kamu…”

Ia tersenyum.

“Aku pilih berantakan.”

Soling tertawa sambil menangis.

“Bodoh.”

“Sudah kubilang.”

Tonying melipat surat.

“Happy anniversary.”

Soling menyandarkan kepala ke bahunya.

Lama.

Kemudian berkata,

“Aku marah.”

“Masih?”

“Masih.”

“Karena bukit?”

“Iya.”

“Besok hilang?”

“Belum tentu.”

“Berapa hari?”

“Tiga.”

“Dua.”

“Empat.”

“Baik. Tiga.”

Soling tersenyum.

Mereka tetap seperti itu beberapa menit.

Lalu Tonying bertanya,

“Besok kare-kare masih ada?”

Soling langsung mengangkat kepala.

“Yang kamu pikir makanan?”

“Lapar lagi.”

“Kamu baru makan.”

“Anniversary bikin capek.”

Soling tertawa.

Lalu berdiri.

“Ada sedikit.”

“Hangatkan.”

“Kamu hangatkan sendiri.”

“Kakiku sakit.”

“Alasan.”

“Benar.”

Akhirnya Soling yang menghangatkan.

Tetapi Tonying mencuci piring.

Tidak bersih.

Soling harus mencuci ulang beberapa.

Ia mengomel.

Tonying pura-pura tidak mendengar.

Normal lagi.

Tiga minggu kemudian, Soling menemukan Tonying sedang memperbaiki kotak kayu lama di halaman.

“Kamu apakan?”

“Bersihkan.”

“Untuk apa?”

“Taruh di lemari.”

“Kukira mau dikubur lagi.”

Tonying mengangkat kepala.

“Boleh juga.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Umur kita sudah segini. Siapa yang mau gali seratus tahun?”

“Cucu.”

“Kasihan.”

Tonying tertawa.

Soling duduk di sampingnya.

Cincin lama sudah dibersihkan.

Mereka tidak memakainya.

Terlalu kecil.

Tonying membuatkan bingkai kecil.

Foto lama di tengah.

Cincin ditempel di bawahnya.

Dua surat disimpan di belakang bingkai.

Di ruang tamu sekarang ada foto itu.

Kalau ada tamu bertanya, Tonying biasanya mulai bercerita panjang.

Soling akan memotong.

“Jangan percaya semuanya. Dia suka melebih-lebihkan.”

Tonying membela diri.

“Semua benar.”

“Tidak.”

“Mana yang salah?”

“Kamu bilang waktu muda ganteng.”

“Itu fakta.”

Dan begitulah.

Setahun setelah golden anniversary, mereka tidak membuat pesta besar.

Soling memasak bihon.

Tonying membeli dua es krim.

Mereka duduk di beranda.

“Tidak ada bukit?” tanya Soling.

“Tidak.”

“Bagus.”

“Lututku masih ingat.”

“Syukurlah.”

“Kalau ulang tahun ke-60?”

“Duduk saja di rumah.”

“Tidak romantis.”

“Masih hidup itu sudah romantis.”

Tonying mengangguk.

“Benar juga.”

Lima puluh tahun tidak membuat mereka menjadi pasangan sempurna.

Tonying tetap lupa menaruh handuk.

Soling tetap cerewet soal gula.

Mereka masih bertengkar kecil tentang remote TV.

Tentang obat.

Tentang siapa yang lupa mematikan lampu.

Tentang Tonying yang suka memberi uang diam-diam pada cucu.

“Jangan manjakan!”

“Sedikit saja.”

“Setiap minggu sedikit!”

“Berarti masih sedikit.”

Soling akan marah.

Tonying akan tertawa.

Lalu malamnya mereka tetap minum kopi bersama.

Kadang bahagia memang tidak datang seperti di film.

Tidak selalu berupa bunga.

Tidak selalu makan malam mahal.

Kadang bahagia pulang naik tricycle dengan pakaian penuh lumpur, tangan lecet, telepon rusak, dan membawa kotak tua yang hampir hancur.

Kadang seseorang terlihat seperti melupakanmu…

padahal seharian ia sedang mencari sesuatu yang pernah kalian kubur bersama saat masih muda.

Dan kadang setelah lima puluh tahun, kalimat paling romantis bukan lagi:

“Aku mencintaimu.”

Bisa saja sesederhana:

“Pulanglah.”

Atau:

“Sudah minum obat?”

Atau:

“Jangan naik bukit sendirian lagi.”

Suatu sore, seorang cucu bertanya pada Soling,

“Lola, apa rahasia bisa menikah sampai lima puluh tahun?”

Soling sedang mengupas mangga.

Ia berpikir sebentar.

Tonying yang duduk di dekatnya langsung menjawab,

“Kesabaran.”

Soling mendengus.

“Dia yang sabar?”

“Ya.”

“Bohong.”

Cucunya tertawa.

“Jadi apa, Lola?”

Soling melihat Tonying.

Lelaki tua itu sedang tersenyum padanya.

Wajah yang sudah ia lihat dalam begitu banyak bentuk.

Muda.

Marah.

Lelah.

Takut.

Sakit.

Senang.

Tua.

Semua wajah itu tetap Tonying.

Ia mengangkat bahu.

“Tidak ada rahasia.”

“Serius?”

“Serius.”

“Terus kok bisa?”

Soling kembali mengupas mangga.

“Bangun besok, lalu pilih orang yang sama lagi.”

Cucunya terdiam.

Tonying juga.

Lalu ia tersenyum.

“Itu romantis.”

Soling menunjuk pisau kecil ke arahnya.

“Jangan besar kepala.”

“Sudah lima puluh tahun lebih. Boleh sedikit.”

Dan sampai hari itu, kotak kayu dari Bukit San Roque masih berada di ruang tamu.

Tidak dikubur lagi.

Tidak disembunyikan.

Kadang berdebu.

Kadang cucu membuka dan membaca surat-suratnya.

Tonying selalu protes.

“Privasi!”

Soling membalas,

“Sudah jadi sejarah keluarga.”

Di bawah foto lama mereka, cincin kecil itu tetap tergantung.

Kusam.

Tidak sempurna.

Pernah hilang.

Tertimbun tanah.

Ditemukan lagi setelah puluhan tahun.

Soling sering melihatnya ketika menyapu ruang tamu.

Dan setiap kali ia melihatnya, ia selalu teringat satu hal:

Beberapa cinta memang tidak tetap bersih.

Ia terkena lumpur.

Lecet.

Tersesat.

Kadang hampir hilang.

Tapi kalau dua orang masih mau mencarinya…

kadang cinta itu bisa ditemukan lagi.

Bahkan setelah lima puluh tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *